Kebaya Merah Marun

Standard

Sepi, sunyi, senyap. Tiga hal itulah yang selalu menghantui Saluna di setiap malam tiba. Malam ini tak ada satu pun binar bintang yang menampakkan kemilaunya. Sang dewi malam pun rupanya enggan menampakkan dirinya. Langit terlihat kosong. Begitu kosong, sehingga menambah kesunyian pada diri Saluna.
Saluna adalah anak tunggal dari seorang pengusaha kaya. Ia juga merupakan pewaris tunggal dari seluruh aset kekayaan yang dimiliki oleh kedua orang tuanya, diantaranya sebuah hotel mewah, empat buah rumah megah yang tersebar di kota-kota besar, serta sejumlah saham yang bernilai milyaran rupiah .
Walaupun berasal dari keluarga terpandang, Saluna tidak lantas menjadi angkuh dan sombong. Justru dengan semua fasilitas yang ia miliki, dapat membentuk kepribadiannya menjadi seorang gadis yang memiliki sifat rendah hati dan suka menolong sesama. Saluna adalah seorang gadis yang ceria. Salah satu ciri khasnya adalah ia suka menebar senyum dimana saja dan kepada siapa saja yang ia jumpai.
Kini, semua ibarat rembulan yang tertutup awan kelam. Tak ada lagi keceriaan yang terlihat pada wajah Saluna. Tepat satu tahun silam, sebuah peristiwa maut merenggut nyawa ayah Saluna. Ayahnya tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Ironisnya, ibu Saluna yang mendengar kabar tersebut mengalami serangan jantung yang berujung dengan kematian. Peristiwa tersebut membuat Saluna mengalami tekanan batin yang cukup dalam. Ia tak menyangka kalau kepergian kedua orang tuanya akan secepat ini. Ditambah lagi penyebab kematian keduanya yang sangat tragis membuat Saluna tak mudah menelan kenyataan yang cukup pahit itu.

***

Sudah satu minggu lamanya Saluna mengurung dirinya di dalam kamar, tempat dimana kedua orang tuanya menghabiskan waktu untuk beristirahat. Sudah satu minggu pula tidak ada makanan ataupun minuman yang masuk ke dalam tubuhnya. Kesedihan yang mendalam memang masih di rasakan oleh Saluna. Tak ada hal lain yang dikerjakannya selain duduk termenung memandangi gambar kedua orang tuanya.
Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Nampaknya rasa kantuk mulai menggelayuti kedua mata Saluna yang sedari tadi mempertahankan dirinya untuk tetap terjaga. Tanpa tersadar akhirnya ia dikalahkan oleh rasa kantuk yang begitu besar. Tiga puluh menit berlalu. Ibu Saluna hadir dalam mimpi.

“Luna”.

“Ibu”. Saluna sangat terkejut mendengar suara ibunya yang memanggil namanya.

“Ibu…Ibu dimana???”. Saluna menyusuri sebuah jalan dan mencari asal suara itu.

“Luna”. Suara itu terdengar untuk kedua kalinya.

“Ibuuuu…..”. Saluna berteriak dan tanpa tersadar air matanya mengalir deras bak menganak sungai.

“Ibu disini sayang”.

Saluna berbalik arah dan melihat sesosok wanita berdiri di ujung jalan dengan pakaian serba putih. Tanpa ragu-ragu Saluna segera menghampiri wanita itu.

“Ibu kangen sama kamu, sayang”. Wanita itu langsung memeluk Saluna dengan begitu erat. Saluna semakin tak kuasa menahan air matanya.

“Luna juga kangen sama ibu. Jangan tinggalin Luna lagi bu”.

“Ibu hanya ingin memberikan ini sama kamu, Luna”. Wanita itu memberikan sebuah kotak berwarna merah kepada Saluna.

“Ini apa bu?”. Tanya Saluna penasaran.

Wanita itu hanya diam dan langsung berdiri seakan hendak bergegas pergi dari Saluna.

“Ibu mau kemana?”. Tanya Saluna yang seolah tak ingin berpisah lagi dengan ibunya.

Wanita itu tetap tidak menjawab. Ia tidak menghiraukan lagi perkataan Saluna. Ia melangkah pergi menjauh.

“Ibu jangan tinggalin Luna lagi. Luna ga mau sendiri, bu”. Saluna berlari sambil berteriak memanggil wanita itu. Namun wanita itu hilang tersapu kabut yang begitu tebal.

Saluna terbangun. Ia begitu terkejut ketika melihat sebuah kotak berwarna merah tergeletak di sisinya. Kotak itu sedikit lebih besar dari kotak yang diberikan oleh wanita itu di dalam mimpinya. Sontak air mata Saluna terjatuh tak tertahankan. Ia menyadari bahwa ia tidak bermimpi. Semua itu nyata.
Saluna kemudian membuka kotak merah itu. kotak itu berisi sebuah kertas dan sepotong kebaya berwarna merah marun. Tanpa menunggu waktu lagi Saluna langsung membuka kertas itu dan membacanya.

Jangan pernah berpikir aku meninggalkanmu…
jangan pernah merasa kini kau sendiri…
jangan pernah kau ratapi kepergianku…
karena sesungguhnya aku tidak pernah meninggalkanmu, kau tidak pernah sendiri dan aku tidak pernah pergi…
yakinlah, aku selalu disini menjagamu dan menyayangimu…
meski kini bayangku luput dari pandanganmu…
Sebuah kebaya merah marun telah ku tinggalkan untukmu..
aku ingin kamu memakainya di hari yang paling bahagia untuk dirimu…

Kata demi kata dalam secarik kertas tersebut semakin mengiris hatinya. Saluna tak dapat berkata-kata. Tubuhnya yang lemas karena tidak ada asupan makanan selama satu minggu di tambah tekanan batin yang cukup bergejolak menyebabkan ia jatuh pingsan di lantai setelah sebelumnya kepala Saluna membentur sebuah meja kayu dengan cukup keras.

***

Setelah dua minggu ia dinyatakan koma oleh tim dokter, akhirnya Saluna telah sadarkan diri. Dengan perlahan ia membuka kedua matanya. Ia merasakan tubuhnya begitu lemah. Untuk menggerakkan jarinya saja ia sudah tak berdaya. Kepalanya masih terbalut perban bekas luka akibat terbentur meja kayu.

“Mba Saluna sudah sadar?”. Sapa seorang suster jaga yang mengawasi perawatan Saluna selama ia berada di Rumah Sakit.

“Memangnya saya kenapa, suster?”. Saluna merasa heran mengapa ia bisa berada di Rumah Sakit.

“Beberapa mingggu yang lalu mba di bawa kesini dalam keadaan pingsan dan terdapat luka di kepala mba. Setelah beberapa hari melakukan perawatan mba dinyatakan koma oloeh dokter karena mba tidak pernah sadarkan diri lagi”.

Saluna hanya diam dan termenung. Pikirannya menerawang berusaha mengingat kronologi yang terjadi hingga akhirnya ia bisa sampai disini. Sampai akhirnya ia teringat akan kebaya merah marun itu. Ia teringat kalau mendiang ibunya menginginkan ia memakai kebaya merah marun itu pada hari yang paling bahagia dalam hidupnya.
Saluna tidak tahu kapan ia harus memakai kebaya merah marun itu. Dalam hatinya tersirat tanya apakah masih ada kebahagiaan yang akan singggah di dalam kehidupannya setelah semua peristiwa yang terjadi kepadanya.
Saluna menangis dan berteriak-teriak, merasa kesal karena tidak tahu bagaimana caranya untuk mewujudkan keinginan mendiang ibunya itu. Ia sangat ingin sekali secepatnya memakai kebaya merah marun itu, namun ia tidak tahu kapan datangnya saat paling bahagia yang dimaksud oleh mendiang ibunya itu.

***

Pagi ini terasa begitu hangat. Sinar mentari pagi yang begitu terik memusatkan sinarnya pada tubuh Saluna yang masih terbaring lemah.

“Selamat pagi, mba Saluna”. Seorang wanita membuka pintu kamar rawat Saluna.

Wanita itu bernama Anita. Dia adalah seorang asisten pribadi mendiang ibu Saluna. Sudah 10 tahun dia bekerja sebagai seorang asisten pribadi. Dia juga merupakan orang kepercayaan keluarga Saluna, bahkan dalam surat wasiat peninggalan ayah Saluna tertulis bahwa Anita adalah orang yang berhak sebagai pemegang hak asuh atas Saluna jika ada sesuatu yang menimpa kedua orang tua Saluna.

“Ini barang yang mba minta sudah saya bawakan”. Sambil menyodorkan sebuah kotak berwarna merah yang mana didalamnya berisi sepotong kebaya merah marun.

Saluna langsung mengambil kotak itu dan membukanya.

“Ibu Anita, bisa tolong saya pakaikan kebaya ini?”. Saluna mengeluarkan kebaya merah marun itu dari kotaknya dan menjulurkan kepada Anita.

Anita pun mengiyakan permintaan Saluna. Ia langsung memakaikan kebaya merah marun itu pada tubuh Saluna.

“Sudah mba”. Anita sudah selesai memakaikan kebaya merah marun itu.

Saluna terlihat begitu cantik. Kulitnya yang berwarna putih bersih berpadu dengan warna merah marun. Entah apa yang membuatnya ingin sekali memakai kebaya merah marun itu. Seketika perasaannya menjadi damai. Sebuah senyuman yang tenggelam selama dua tahun lamanya kni mulai menghiasi wajah cantiknya. Sangat cantik, seperti bias-bias pelangi yang muncul setelah hujan turun. Sambil tersenyum ia memejamkan matanya. Ia melihat ibunya tersenyum kepadanya. Kini ia mengerti, inilah hari yang paling bahagia didalam hidupnya. Hari dimana ia bisa berkumpul kembali bersama kedua orang tuanya dalam sebuah kehidupan yang kekal.

Created by : Selitavia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s