..Buket Bunga di Penghujung Tahun…

Standard

Tap, tap, tap. Jingga melangkahkan kakinya dengan penuh keraguan menuju tempat dimana sang kekasih hatinya bernaung. Beberapa kali ia mencoba untuk memutar arah, namun rasanya ia tak kuasa untuk melawan gejolak hatinya yang haus akan penjelasan dari semua masalah yang kini memberi jarak antara ia dan kekasihnya, Biru.

“Kamu harus kuat Jingga, tidak boleh lemah!!!” gumamnya seraya menguatkan diri.

Tak beberapa lama, sampailah ia di depan sebuah pintu yang sedikit memberi celah. Seketika itu pula, hatinya terasa bergetar ketika melihat Biru ada di hadapannya.

“Bisa ngomong sebentar?” ucapnya pada Biru dengan nada gemetar.

Belum sempat Biru menjawab pertanyaannya, Jingga langsung beranjak pergi. Jingga sudah tak tahan membendung tetesan air matanya yang mulai berjatuhan. Ia tak ingin Biru melihatnya menangis. Tanpa sadar ia melangkahkan kakinya menuju kampus yang letaknya tidak begitu jauh dari kediaman Biru.

***

“Jingga, lo kenapa??? Pagi-pagi mata lo udah merah gitu!!!”. Salah satu teman kampus Jingga menyapa.

“Oh ga apa-apa kok!!! Tadi gue bangun kesiangan jadi masih merah gini deh matanya”. Jawab Jingga dengan sedikit senyum yang di paksakan.

Tanpa menghiraukan temannya, ia langsung beranjak masuk ke dalam kelas. Suasana kelas pagi itu tidak terlalu ramai. Di dalam kelas ia hanya melamun. Pikirannya menerawang entah kemana. Yang ada dipikirannya hanya Biru. Biru yang selama ini ia dambakan ternyata telah tega menduakan ketulusaan cintanya. Biru yang selama ini ia percaya sebagai orang yang paling jujur yang pernah ia kenal ternyata telah mengkhianatinya. Rasanya tak ada lagi yang dapat ia lakukan untuk memperbaiki hubungannya yang telah retak. Nit…nit… sebuah dering handphone membuyarkan lamunannya. Ternyata itu pesan dari Biru.

To : Jingga

From : Biru

Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu…

Melihat isi pesan tersebut hati Jingga semakin teriris. Sebenarnya ia tak tega melihat Biru, orang yang sangat ia cintai terpuruk dalam rasa bersalah seperti ini. Namun ia juga tak mampu untuk melawan keegoisan perasaannya yang sangat ingin membalas rasa  sakit yang telah Biru perbuat kepadanya.

***

Tes, tes, tes. Lagi dan lagi tetesan air mata Jingga berjatuhan. Hasil olahan rasa sakit yang tak mampu ia bendung. Pikirannya selalu tertuju pada Biru. Hanya keputusasaan yang ia rasakan saat ini. Ia merasa sudah tak ada lagi harapan untuk melanjutkan hubungannya dengan Biru. Sebuah hubungan yang telah dibangun sekian lama seakan runtuh begitu saja seperti istana pasir yang tersapu ombak. Nit…nit…Handphone Jingga berbunyi. Menandakan sebuah pesan masuk.

To : Jingga

From : +622198522860

Jingga, gue mohon banget sama lo..tolong jangan rusak hubungan gue sama Biru. Tolong lo jauhin Biru.

Melihat pesan tersebut, semakin deras air mata yang membasahi pipi Jingga. Tubuh Jingga langsung terduduk lemas seakan tak ada lagi sisa-sisa energy yang dapat ia gunakan. Saat itu ia benar-benar tidak mengerti sebenarnya ia berada diposisi yang benar atau salah???? Wanita itu selalu menyudutkan Jingga. Hal itulah yang paling membuat hati Jingga tersakiti. Ia sangat ingin sekali mengatakan kepada Biru, bahwa ia sangat mencintai Biru dan ia tak mau kehilangan Biru. Ia juga sangat ingin sekali mengatakan kepada Biru, bahwa ia sangat yakin kalau Biru tidak mungkin melakukan hal yang menyakiti hatinya. Namun disaat keyakinan Jingga sudah kuat terhadap Biru, selalu saja wanita itu datang menghancurkan semua keyakinan yang telah ia bangun dengan susah payah.

“Biru, aku butuh kamu disini untuk menghapus semua luka yang aku rasakan. Aku butuh kamu”. Bisik Jingga dalam hati seraya menantikan kehadiran Biru disisinya.

Malam ini adalah malam pergantian tahun. Di tengah gemuruh suara petasan dan kembang api yang bersahut-sahutan ia hanya mengurung diri dikamar. Bimbang dan gelisah. Itulah kata yang tepat menggambarkan suasana hati Jingga saat ini. Ia masih menunggu sebuah penjelasan dari Biru. Ia  sangat ingin Biru mengatakan kepadanya bahwa hanya ada dia di hatinya. Nit…nit… handphone Jingga berbunyi kembali. Jingga merasa takut untuk membuka pesan tersebut, ia takut wanita itu akan menyudutkannya lagi. Dengan membentengi hati ia membuka pesan tersebut. Ternyata pesan tersebut dari Biru.

To : Jingga

From : Biru

Aku menaruh sesuatu untukmu di meja depan rumahmu…

Jingga tersentak dan merasa penasaran. Dengan sigap ia bergegas keluar rumah. Terlihat satu buah kantung plastic berwarna hitam. Tanpa pikir panjang ia segera membawa masuk kantung plastic tersebut. Ketika sampai dikamar ia segera melihat isi kantung tersebut. Ternyata isi kantung tersebut adalah satu buket bunga dengan sebuah kartu ucapan yang tertempel. Dengan rasa penasaran Jingga segera membaca tulisan yang tertera dalam katu ucapan tersebut.

Selamat Tahun Baru

Seuntai bunga ini adalah ungkapan hati..

Setiap kasih sayang yang kau beri..

Setiap waktu yang kau tunggu..

Seperti kasih sayang yang tak pernah henti..

Dan kesetiaan yang tak pernah mati..

Aku sayang kamu dan akan selalu menyanyangimu..

Semoga bungaku bisa mengobati rindu dan sakit hatimu..

Hanya ini yang mampu aku beri..

I LOVE YOU FOREVER..

Derai air mata kebahagiaan mengalir deras bak menganak sungai. Semua keraguan Jingga hilang begitu saja. Semua pertanyaan yang menyelimuti hatinya kini terjawab sudah. Saat itu juga, ia berjanji dalam hati bahwa ia akan selalu berusaha untuk lebih mempercayai Biru daripada orang lain. Dan satu keyakinan Jingga yang tak pernah goyah, yaitu keyakinan hatinya kepada Biru. Karena ia percaya kata hati tak akan pernah salah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s